Jumat, 27 Januari 2012

A. FEATURE

Feature story is creatife, Sometime, subjective,article designed primarly to entertain and to inform reader of an event, a situation or an aspect of life ( Wiliamson : 1972:12)

Terjemahannya :

Cerita fitur kreatif, kadang-kadang subyektif, artikel dirancang terutama untuk menghibur dan untuk menginformasikan pembaca dari suatu peristiwa, situasi atau aspek kehidupan,menurut Williamson (1972:12)

B. OPINI

Pengertianè Pendapat, pikiran, atau pendirian.

Penafsiran è Opini merupakan pendapat pribadi, yang dikeluarkan oleh seseorang dalam menilai atau mendiskripsikan sebuah object yang belum tentu kebenarannya. Orang sering bilang “Opini saya adalah karakter saya” jadi, dengan kita beropini maka kita telah menunjukkan pribadi kita. Menurut opini saya berdasarkan dilapangan orang yang sering mengeluarkan opininya pemikirannya lebih cepat dan cerdas. Melatih diri beropini merupakan pembelajaran yang sangat baik untuk menuju pemikiran yang lebih dewasa dan terarah

C. RESENSI

Pengertianè Berasal dari bahasa Latin, revidere (kata kerja) atau recensie. Artinya “melihat kembali, menimbang, atau menila, jadi, Resensi adalah Penilaian dan Pertimbangan isi suatu buku ( yang baru di terbitkan) Atau Bedah Buku.

Penafsiran è resensi merupakan suatu kegiatan pengupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah. Semua kegitan ini bertujuan unutuk memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku, apakah ada hal yang baru dan penting atau hanya sekadar mengubah buku yang sudah ada. Kelebihan dan kekurangan buku adalah objek resensi, tetapi pengungkapannya haruslah merupakan penilaian objektif dan bukan menurut selera pribadi si pembuat resensi. Umumnya, di akhir ringkasan terdapat nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.

TUHAN SEMBILAN SENTI

Oleh Taufik Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,

hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok?

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat

merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,

sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia,

satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,

tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,

cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok

ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.

Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.

Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,

karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi,

tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,

lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,

jangan.Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.

Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,

dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,

sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.

Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,

cuma setingkat di bawah korban narkoba.

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,

dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,

diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,

tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,

karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini


Parafrasenya :

Dalam puisi ini penulis puisi Tuhan 9 cm yaitu Taufik Ismail membicarkan tentang rokok,pada larik Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok.Dengan kata lain di Indonesia ini orang-orang bebas untuk merokok tidak dilarang dan tidak ada larangan untuk para perokok.Pada larik Indonesia adalah semacam Firdaus-jannatu-na’im,penyair mengungkapkan bahwa di Indonesia ini seperti surga yang indah.Pada larik tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,pada larik ini maksud penyair adalah mengungkapkan bahwa bila orang yang tidak suka merokok dekat dengan yang lagi merokok akan merasa tidak tahan karena sesak akibat asap rokok.

Pada larik di sawah petani merokok,di pabrik pekerja merokok, pada larik di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri, merokok,di parlemen anggota DPR merokok,di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,di perkebunan pemetik buah kopi merokok,di perahu nelayan penjaring ikan merokok,di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,pada larik-larik ini penyair mengungkapkan di berbagai tempat orang-orang banyak yang merokok,banyak yang suka menghisap rokok.

Pada larik Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im,sangat ramah bagi perokok,tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,penyair mengungkapkan bahwa di indonesia di bebaskan merokok,merokok itu seuatu yang nikmat walaupun hukumnya makruh menurut ajaran islam di Indonesia tidak ada larangan untuk para perokok

dan pada larik tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,maksud penyair bahwa merokok itu sangat berbahaya,sangat merugikan bagi kesehatan bisa menyebabkan atau menimbulkan berbagai macam penyakit.

Pada larik Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok,di ruang kuliah dosen merokok,di rapat POMG orang tua murid merokok,penyair mengungkapkan dari mulai anak remaja murid SMU,mahasiswa,dosen,orang tua murid atau di berbagai kalangan banyak yang jadi pencandu rokok.Pada larikdi perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya,apakah ada buku tuntunan cara merokok,maksud penyair ini menyindir kepada para pecandu rokok,merokok itu bukan suatu keharusan dan lagi sangat merugikan.

Pada larik di angkot kijang penumpang merokok,di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,di loket penjualan karcis orang merokok,di kereta api penuh sesak orang festival merokok,di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,di andong Yogya kusirnya merokok,penyair mengungkapkan di berbagi tempat,di mana-mana orang-orang banyak yang jadi pecandu rokok.Pada larik sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,ini sebenarnya merupakan kata-kata atau ungkapan rasa tidak suka kepada para pecandu rokok,tetapi rasa tidak sukanya ini untuk kebaikkan supaya para pecandu rokok berhenti merokok.

Pada larik Negeri kita ini sungguh nirwana,maksud penyair mengungkapkan keadaan yang sungguh sempurna bagi setiap wujud eksistensi atau tempat kebebasan kesempurnaan,pada larik kayangan para dewa-dewa bagi perokok,maksud penyair dunia tempat para pecandu rokok,pada larik tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,penyair mengungkapkan bagi orang yang tidak merokok adalah suatu cobaan yang berat karena menahan keinginan untuk merokok,karena merokok itu sekali mencoba suka ketagihan,dan bagi yang tidak sama sekali merokok juga merugikan karena asapnya bisa

membuat sesak

Selanjutnya pada larik Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,diam-diam menguasai kita,maksud penyair rokok telah menjadi suatu yang di butuhkan dan sangat di butuhkan karena banyak yang kecanduan rokok.

Pada larik di pasar orang merokok,di warung Tegal pengunjung merokok,di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,penyair mengungkapkan di berbagai tempat banyak yang merokok.Pada larik bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,penyair meniceritkakan akibat asap rokok,kalau becakap-cajkap dengan orang yang sambil merokok akan tidak tahan karena asap rokok.Pada larik bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,penyair memberi perhatian kepada perokok bahwa akibat merokok mulut menjadi bau,bau asap rokok.dan itu kurang di senangi wanita.

Pada larik duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,tapi kita tidak ketularan penyakitnya,Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,kita ketularan penyakitnya,Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,disisni penyair berusaha membandingkan bahaya penyakit HIV-AIDS dengan bahayanya nikotin,ini sebagai peringatan atau pemberitahuan si penyair kepada pembaca tentang bahayanya nikotin.

Pada larik Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,penyair mengungkapkan bahwa Indonesia ini adalah tempat pengembang biakan tembakau paling subur di dunia dan pada larik dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,Bisa ketularan kena,dan ini adalah pemberitahuan kepada kita akan bahaya rokok.

Pada larik di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,di apotik yang antri obat merokok,di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,di ruang tunggu dokter pasien merokok,dan ada juga dokter-dokter merokok,disini penyair
menceritakan para perokok,larik-larik ini merupakan ungkapan secara tidak langsung mengapa tidak dibuat peraturan larangan untuk merokok.Dan dengan larik-larik diatas sebenarnya penyair ingin mengusulkan untuk di buatnya peraturan larangan merokok.Apalagi di tempat-tempat kesehatan.

Pada larik istirahat main tenis orang merokok,di pinggir lapangan voli orang merokok,menyandang raket badminton orang merokok,pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,panitia pertandingan balap mobil,pertandingan bulutangkis,Penyair menceritakan olah ragawan yang suka merokok.Dengan larik-larik tersebut sebenarnya penyair ingin menegur tetapi secara tidak langsung.Dan bila di analisis secara seksama larik-larik tersebut adalah ungkpan rasa tidak sukanya penyair kepada pencandu rokok,tetaapi bukan kekesalan melainkan itu untuk kebaikan ,dan pada larik turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,disini menceritakan tentang olah raga/turnamen sepak bola tidak terlepas atau butuh dukungan dari perusahaan rokok untuk mensponsori.

Pada larik di kamar kecil 12 meter kubik,sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,dengan cueknya,pakai dasi,orang-orang goblok merokok,disini penyair menyampaikan rasa tidak sukanya ke pada para perokok,para perokok yang suka merokok di sembarang tempat.

Pada larik Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im,maksud penyair adalah bahwa di Indonesia semacam taman kesenangan (surga),pada larik sangat ramah bagi orang perokok,kata sangat ramah disini maksudnya tidak ada larangan atau aturan dan sanksi bagi perokok sepeti taman kesenangan atau kebebasan para perokok,pada larik tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,ini maksudnya apabila di tempat atau di dekat para perokok akan merasa tidak enak karena sesak akibat asap rokok dan itu dapat mengganggu kesehatan..

Pada larik selanjutnya yaitu larik rokok telah menjadi dewa, berhala, Tuhan baru,diam-diam menguasai kita,maksudnya sekarang ini rokok sangat di butuhkan karena banyak pecandu rokok yang tidak bisa menghentikan kebiasaan merokok.
Pada larik Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.Ini menceritakan tentang ulama,pada kuitpan Mereka ulama ahli hisap,di larik ini penyair menceritakan ulam yang suka menghisap rokok,pada larik Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.Bukan ahli hisab ilmu falak,penyair menceritakan ulama yang peduli akan ilmu falak,pada larik tapi ahli hisap rokok,menceritakan bahwa ulama suka menghisap atau pecandu rokok.Larik Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,sembilan senti panjangnya,putih warnanya,penyair menceritakan ulama yang lagi menghisap rokok mereka tidak mempedulikan akibatnya dan tidak menghiraukan makhruh hukumnya,larik ke mana-mana dibawa dengan setia,penyair menceritakan kemana-mana suka membawa rokok,larik satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,ini menceritakan rokok yang di bawa.
Pada parik Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,menceritakan melihat dari ruang sidang,larik tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,cuma sedikit yang memegang dengan tangan iri,menceritakan jumlah orang yang sedang merokok.Pada larik Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal? Penyair bertanaya-tanya apakah itu pertanda kelompok ashabul yamiin lebih banyak dari pada kelompok ashabus syimaal.

Pada larik Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.Penyair menceritakan mereka merokok sampai asap nya mengepul keseluruh ruangan karena tertiup AC,pada larik Kyai, ini ruangan ber-AC penuh,disini penyair menceritakan dia berusaha menegur kyai yang merokok karena disana ruang ber-AC jadi asapnya mengepul kemana-mana,pada larik Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i,penyair mengungkapkan bahwa merokok itu merugikan orang lain,dan pada larik Kalau tak tahan,Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.,dengan larik-larik itu penyair menceritakan si kyai yang merokok bilang kalau tak tahan dia akan merokok di liuar,kyai tidak berhenti merokok dan dia pindah ke luar untuk merokok,benar-benar suatu kebiasaan yang susah di tinggalkan dan di hentikan.

Pada larik Min fadhlik, ya ustadz,penyair beusaha mengingatkan,pada larik 25 penyakit ada dalam khamr,penyair memberitahukan,pada larik Khamr diharamkan,disini penyair memberitahukan,larik selanjutnya yaitu larik 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi),penyair membicarakan penyakit yang ada dalam daging babi,pada larik Daging khinzir diharamkan,pnyair bilang bahwa daging khinzir atau babi diharamkan,disini penyair bermaksud memperingatkan atau menasehati bahwa merokok itu merugikan,dan pada larik 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.Patutnya rokok diapakan?,disini penyair memberitahukan zat yang berbahaya yang ada pada rokok kepada kyai,dan penyair bilang rokok itu patutnya di apakan,penyair bilang itu dengan maksud merokok itu harus di hentikan karena merugikan bagi kesehatan.

Pada larik selanjutnya yaitu larik Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz,penyair bilang pertanyaan yang dengan maksud memperingatkan kyai bahwa merokok itu merugikan,penyair bilang tidak usah di jawab sekarang karena nantinya juga kyai yang suka merokok itu memikirkan bahayanya menghisap rokok.Pada larik Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith,penyair meminta,

pada larik Mohon ini direnungkan tenang-tenang,penyair meminta pada kyai untuk merenungkan peringatan atau pemberitahuan si penyair bahwa merokok itu sangatlah merugikan,pada larik karena pada zaman Rasulullah dahulu,sudah ada alkohol,sudah ada babi,tapi belum ada rokok,di larik-larik ini penyair bermaksud supaya rokok ini di haramkan seperti halnya alkohol dan daging babi diharamkan menurut Rasulullah.

Pada larik selanjutnya yaitu larik Jadi ini PR untuk para ulama,maksud penyair bahwa tentang hal ini yaitu rokok perlu para ulama pikirkan untuk membuat larangan atau hukumnya merokok atau sanksi karena merokok itu sangatlah merugikan bagi kesehatan,pada larik Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,jangan,pada larik larik itu penyair menasehati atau memberi saran supaya merokok itu hukumnya jangan di kecil-kecilkan karena ulamanya ketagihan,penyair berharap supaya rokok itu atau menghisap rokok hukumnya di haramkan.

Pada larik Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,yaitu ujung rokok mereka, di larik ini penyair menceritakan para ulama yang suka menghisap rokok terkejut dengan perkataan si penyair,terkejut dengan perbandingan yaitu membandingkan alkohol dan daging babi yang di haramkan oleh Rosulullah dengan rokok,pada larik Kini mereka berfikir.Biarkan mereka berfikir.penyair bilang setelah si penyair memperingatkan para ulama yangt suka merokok,mereka (para ulama) banyak yang mempertimbangakan bahayanya merokok,dan penyair bilang banyak yang berhenti merokok mematikan rokok yang lagi di isap mereka karena si penyair memperingatkan bahayanya merokok.
Pada larik Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,dan ada yang mulai terbatuk-batuk,penyair menceritakan keadaan diruang ber-AC yang semakin pengap karena asap rokok,dan penyair menceritakan disana mulai banyak yang batuk-batuk karena pengap,karena sesak nafas akibat kepulan asap rokok.

Pada bait selanjutnya yaitu di larik, Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok,pada larik ini penyair memberitakan tentang orang-orang indonesia yang meninggal akibat penyakit rokok,pada larik Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,penyair membandingkan korban penyakit rokok dengan korban kecelakaan,korban penyakit rokok lebih banyak dari pada korban kecelakaan,dan pada larik lebih gawat ketimbang bencana banjir,penyair bilang bahwa bahaya merokok lebih gawat ketimbang akibat bencana banjir,karena merokok itu sangat berbhaya bisa menimbulkan penyakit yang mematikan dan paada larik gempa bumi dan longsor,disini penyair mencoba membandingkan jumlah korban rokok dengan jumlah bencana alam dan pada larik cuma setingkat di bawah korban narkoba,penyair memberitahukan dampak merokok lebih rendah dari dampak narkoba dan jumlah korbannyapun lebih rendah dibandingkan dengan korban narkoba,karena narkoba itu lebih-lebih berbahaya daripada rokok.

Pada bait selanjutnya yaitu di larik Pada saat sajak ini dibacakan,berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,penyair menceritakan pada waktu sajak ini di bacakan yaitu sajak Tuhan 9 cm rokok sangat dibutuhkan karena banyak pecandu-pecandu rokok dan banyak beredar dimana-mana,di negara kita,pada larik jutaan jumlahnya,penyair menceritakan jumlah rokok yang banyak,pada larikbersembunyi di dalam kantong baju dan celana,penyair menceritakan banyak orang yang membawa rokok,pada larik dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,diiklankan dengan indah dan cerdasnya,penyair menceritakan rokok yang beragam jenis dan namanya.

Pada larik Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,maksud penyair adalah melarang kepada kita supaya tidak menuruti keinginan untuk merokok,dan melarang kita supaya tidak sekali-kali mencoba untuk menghisap rokok,dan pada larik karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,penyair bilang bahwa
kalau kita sekali mecoba menghisap rokok maka selamanya akan ketagihan

Pada bait terakhir yaitu pada larik Rabbana,beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini,penyair berdo’a kepada Tuhan supaya di beri kekuatan untuk mengantisipasi ke inginan untuk merokok dan berdo’a supaya di beri kekuatan untuk mengantisipasi akibat merokok

Kenapa memalsu Islam atau mendirikan aliran sesat

Kesuburnya aliran sesat dan pemalsuan terhadap Islam bisa disingkat menjadi:

1. Islam itu mutunya sangat tinggi, dan pengikutnya yang setia sangat bergairah dan jumlahnya banyak. Sehingga ada gairah orang-orang yang hatinya ada penyakit, untuk memalsunya, dengan cara mengaku nabi baru atau mendirikan aliran sesat. Sebagaimana barang dagangan yang mutunya tinggi dan diminati masyarakat, maka rawan pemalsuan. Maka tak mengherankan, ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup pun sudah muncul nabi-nabi palsu, di antaranya Al-Aswad Al-‘Ansi, Musailimah Al-Kadzdzab, dan Thulaihah Al-Asadi. Nabi-nabi palsu itu baru muncul menjelang akhir hayat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena saat itu umat Islam sudah berjumlah banyak, bahkan sampai di luar Makkah dan Madinah, sampai ke Yaman. Nabi palsu belum ada ketika Islam belum banyak pemeluknya. Ibarat barang, belum ketahuan lakunya, maka tidak ada yang memalsu, namun setelah ketahuan laris maka ada yang memalsu. Namun Islam bukan sekadar seperti barang. Islam adalah agama dari Allah swt yang dibawa oleh para rasul utusan Allah, dan diutusnya para rasul itu berakhir dengan diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya, dan hanya untuk kaumnya, namun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan bahasa kaumnya untuk seluruh manusia (dan jin) di seluruh dunia, sejak diutusnya sampai berakhirnya dunia ini yaitu hari qiyamat. Maka siapa saja yang telah mendengar seruannya, baik mereka itu pengikut nabi-nabi sebelumnya maupun lainnya, kemudian mati dan tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak masuk Islam), maka pasti termasuk penghuni-penghuni neraka.

Diriwayatkan dari abu hurairah dari rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “demi dzat yang jiwa muhammad ada di tangannya, tidaklah seseorang dari ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang yahudi maupun nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (hadits riwayat muslim bab wujubul iimaan birisaalati nabiyyinaa shallallahu ‘alaihi wa sallam ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

2. Adanya gejala lari dari Islam, ogah-ogahan, atau bahkan menentangnya sambil siap-siap untuk murtad bila ada yang mengomandoi. Di saat seperti itu, maka munculnya pemalsu Islam (nabi palsu ataupun aliran sesat) merupakan peluang yang dianggap baik bagi orang-orang yang sebenarnya sudah tidak suka dengan Islam tetapi masih berstatus orang Islam. Juga bagi orang-orang yang sebenarnya tidak mau shalat, tetapi masih berstatus orang Islam di masyarakat. Maka tak mengherankan, begitu ada nabi palsu yang menggugurkan kewajiban shalat wajib 5 waktu, diganti hanya shalat malam (kalau mau), maka dalam tempo singkat pengikutnya mencapai jumlah 41.000 orang di berbagai kota di Indonesia. Ahmad Moshaddeq yang bergerak sejak 1999 dan baru mengaku nabi terang-terangan pada pertengahan 2007, ternyata langsung mendapatkan pengikut 41.000 orang di berbagai kota di Indonesia.

Itulah factor intern dalam hal sikap beragama, sudah memungkinkan muncul dan suburnya aliran sesat. Kemudian berlangsung atau tertumpasnya aliran-aliran sesat dan bahkan nabi-nabi palsu, lebih tergantung kepada reaksi dari ulama, tokoh Islam, penguasa, dan umat Islam. Di saat ulama, tokoh Islam, penguasa, dan umat Islam sangat gigih menghadapi aneka kesesatan bahkan nabi palsu ataupun orang-orang murtad, maka aneka kesesatan itu bisa diberantas tuntas. Contohnya adalah zaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq, kompaknya ulama (bahkan para penghafal Al-Qur’an), penguasa, tokoh Islam, dan umat Islam telah membuktikan mampu memberantas nabi-nabi palsu yang pasukannya sangat banyak. Misalnya nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab saja pasukan murtadnya 40.000 orang, namun dihabisi oleh tentara Islam pimpinan Khalid bin Walid hingga 10.000 pengikut nabi palsu bersama nabi palsunya tewas dalam keadaan murtad. Dan nabi-nabi palsu lainnya pun terbunuh bersama pengikut-pengikutnya, atau lari dan bertaubat, masuk Islam lagi bersama para pengikutnya.

Sebaliknya, bila ulamanya, penguasanya, umatnya semuanya loyo, maka justru aliran sesat melibas mereka. Dan yang sangat busuk perilakunya adalah ketika ada dari pihak-pihak ulama atau tokoh Islam, atau penguasa, atau umat Islam justru merangkul aliran sesat. Ini yang sangat tercela, busuk, dan sangat merugikan Islam. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjadi anggota aliran sesat, tetapi menjadi mitranya. Yang seperti itu tidak akan terjadi apabila benar-benar meyakini Islam sebagai agamanya yang benar. Dan hanya terjadi bagi orang-orang yang sebenarnya musuh Islam, namun mengaku dirinya Muslim.

Orang-orang macam ini, diri mereka sendiri sudah palsu (ngakunya Muslim tetapi memusuhi Islam). Maka ketika ada nabi palsu, atau aliran sesat, bagai gayung bersambut, bagai pucuk dicinta ulam tiba, atau menurut orang Jawa, bagai bakul mendapatkan tutup (koyo tumbu oleh tutup). Klop. Kalau mereka itu jadi tokoh, maka bukannya memberantas aliran sesat namun justru memelihara dan mendukungnya sambil mengecam keras siapa saja yang menjelaskan kesesatan aliran sesat. Maka tak mengherankan ada sederet nama yang mengecam MUI ketika memfatwakan 11 fatwa tentang kesesatan Ahmadiyah (dengan rekomendasi yang menyejajarkan kesesatan LDII –Lembaga Dakwah Islam Indonesai– dengan Ahmadiyah sebagai membahayakan aqidah maka pemerintah agar menindaknya dengan tegas), memfatwakan Sepilis –sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme— sebagai faham yang bertentangan dengan Islam maka umat Islam haram mengikutinya, dan lain-lain ( Fatwa Munas Ulama MUI ke-7, Juli 2005) atau 10 kriteria aliran sesat (MUI, Oktober 2007).

Tingkah polah pendukung aliran sesat itu justru lebih dahsyat ketimbang pelaku kesesatan sendiri. Contohnya, ketika nabi palsu Ahmad Moshaddeq itu telah bertaubat 9 November 2007, malahan para pendukung nabi palsu yang suka komentar atau menulis di berbagai media massa masih tetap mendukung nabi palsu.

Jadi meninjau dari hal tersebut pengaruh dari para pengikutlah yangperlu sangat sangat dhawatirkan, dan untuk kita semua selaku umat muslim yang ta’at dan taqwa kepada ajaran Allog SWT, kita harus terus mempertebal rasa keimanan kita terhadap Alloh SWT, supaya kita tidak terjerunus ke jalan yang salh dan supaya kita tidak mendapatkan siska Alloh SWT di akhir kelak.

Enjang luki (kylook23@gmail.com)

Mahasiswa Universitas Galuh Ciamis


RESENSI NOVEL

Judul Bku : Di Kaki Bukit Cibalak

Pengarang : Ahmad Tohari

Diterbitkan oleh : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun : Cetakan ketiga, Agustus 2005

Jumlah halaman : 176 hlm

Ringkasan Cerita

Novel ini menceritakan mengenai kecurangan-kecurangan politik di sebuah desa, Tangir namanya. Berawal dari penggambaran Kaki Bukit Cibalak, dimana tempat tersebut dulunya sangat alami, dan syarat akan suasana pedesaan kemudian berubah menjadi suasana yang kacau, bising kendaraan bermotor dan traktor-traktor pembajak sawah, dan sebagainya.
Setelah itu terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam bidang politik, ketika salah satu calon lurah menggunakan cara kotor agar dapat memenangkan dirinya menjadi seorang lurah di daerahnya. Dari situlah sosok Pambudi muncul sebagai tokoh yang sangat menentang adanya tindakan kotor tersebut.

Pambudi yang terpojokkan karena adanya penyimpangan-penyimpangan tersebut di atas, merasakan keresahan: di desa yang sekecil Tanggir, di tengah infrastruktur yang seminim di Tanggir, dihadapkan pada pilihan yang sesedikit di Tangir. Tak pelak lagi, kota menjadi tanah terjanji bagi Pambudi si anak desa. Pertama kali Pambudi menunjukkan keberhasilannya di kota melalui kecakapannya. Dia merangkul sebuah harian lokal untuk mencari dana pengobatan tetangganya yang mengidap kanker. Semenjak itulah Pambudi sangat disegani dan dihormati karena kebaikan luhur budinya.
Kejadian tersebut membuat Pak Dirga—lurah Desa Tanggir—merasa terusik dan berusaha untuk menjatuhkan nama seorang Pambudi. Ia menebarkan berita kalau Pambudi menyelewengkan dana koperasi. Akan tetapi, Pambudi tetap tenang dalam mengatasi persoalan tersebut. Ia lebih memilih mengikuti anjuran orang tuanya untuk pergi ke kota atau kemanapun, yang penting jauh dari Desa Tanggir. Apapun yang ia lakukan disana terserah, yang penting ia lekas pergi dari desanya yang banyak menyimpan kepahitan. Dan dia pun berhasil hidup tenang di Yogya. Setelah lama berada di Yogya ia memutuskan untuk kuliah atas anjuran temannya. Selain kuliah, ia juga bekerja pada Harian Kalawarta yang pernah menerimanya. Ia hidup dengan tenang di Yogya sampai akhirnya memperoleh gelar sarjana. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu sebelum ia sempat pulang kembali ke Tanggir.

Sejak saat itulah ia kembali bertemu dengan Mulyani—anak gadis mantan majikannya dan adik kelasnya di kampus. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi kisah cinta antara mereka berdua. Pambudi hendak meminangnya sebagai istrinya.

Cerita dalam buku ini sunggguh sangat mengharukan sehingga pembaca asyik membaca cerita buku ini.

Kelebihan dan kekurang buku di Kaki Bukit Cibalak

Buku ini mempunyai kelebihan-kelebihan di antaranya:

1. Tampilan luar (cover) desainnya cukup menarik

2.Cerita dalam buku ini sangat mengharukan sehingga enak untuk di baca

3.Dalam penulisan cerita terdapat beberapa kata kiasan sehingga terasa indah kalau dibaca

4.Dalam penyusunan buku ini,di dalam setiap bab,di tampilan atasnya terdapat gambar bunga kecil seperti logo,sehingga kelihatan indah bila membuka bab demi bab tapi.

5.Ukuran font (hurup) 14 cukup besar sehingga tidak runyam kalau di baca

Kekurangan Buku

Kekurangan dalam buku The Heavenly Couple air mata berburu bahagia di antara

Nya:

1.Dalam buku ini hanya ada sedikit kekurangan yaitu lembaran 1-4 tidak memakai halaman dan

2. Tampilan gambar bunga yang seperti logo pada setiap bab tidak berwarna,padahal kalau berwarna dapat menyegarkan mata si pembaca


Analisis Film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Alangkah Lucunya Negeri Ini merupakan Sebuah film karya penulis Musfar Yasin dan sutradara Dedy Mizwar ini sangat kental sekali dengan nuansa kritikan terhadap pemerintah, namun bisa juga didekati dari berbagai kemungkinan: ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kriminalitas, generasi muda, agama, isu pengangguran, kekerasan, budaya matrealisme juga di sentil.sebuah parodi yang mengena sekali. Cara penyampaiannya yang santai dan dibarengi lelucon sungguh menohok hati. Itulah kelucuan yang terjadi di negeri kita.

Adegan dalam film ini dengan alurnya yang maju sungguh lucu, dan menyakitkan hati. Seorang sarjana Manajemen kebingungan mencari kerja. Melamar di perusahaan tidak diterima. Seakan 17 tahun menuntut ilmu sampai menjadi sarjana manajemen tidak ada artinya.

Mencoba berwirausaha beternak cacing malah ditertawakan tetangga. Masyarakat mengira sarjana manajemen akan langsung jadi manajer di perusahaan. Tidak gampang bagi Muluk, sang sarjana manajemen itu untuk menghadapi penilaian masyarakat.

Sama halnya dengan temannya yang sarjana pendidikan. Ketika mau melamar jadi guru, malah dimintai uang sogokan lebih dulu. Sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan bahwa “pendidikan itu tidak penting“.

Penolakan dan penilaian yang negatif terhadap Muluk, sang sarjana manajemen yang belum dapat kerja itu bukan hanya dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari orang-orang dari lingkaran terdekatnya, yaitu keluarga dan calon mertua. Muluk menjawabnya dengan mencoba beternak cacing, tapi tanggapan dari keluarga dan lingkungannya tidak baik.

Muluk mencoba banting stir. Dia bekerja sama dengan kelompok pencopet. Dia mengelola uang dari hasil mencopet itu untuk diinvestasikan di bisnis lain. Namun tak gampang bagi Muluk untuk meyakinkan para pencopet itu. Awalnya dia dicurigai, tetapi berkat kerja kerasnya yang tulus akhirnya dia dapat diterima.

Syukurlah Kepala pencopet juga punya pandangan ke depan yang baik. Dia ingin anak-anak asuhannya dalam kelompok pencopet itu punya masa depan yang jelas. Makanya dia mau mempercayakan pengelolaan uang pada Muluk. Meski awalnya juga curiga, tapi dia tetap punya keyakinan dan harapan akan usaha Muluk.

Pertama-tama dia mengajarkan sistem manajemen pada pencopet, kemudian dia mengajak temannya yang sarjana pendidikan untuk mengajarkan pentingnya pendidikan pada para pencopet, lalu diajaknya lagi tetangganya, anak pak haji untuk mengajarkan pendidikan agama pada para pencopet.

Pada dasarnya Muluk dan kawan-kawan mencoba merubah pemikiran pencopet dan pekerjaan mereka secara bertahap. Uang yang dikelolanya itu diinvestasikan untuk dagangan asongan. Harapannya suatu saat pencopet itu akan beralih profesi dari mencopet menjadi pedagang asongan. Sehingga uang yang diperoleh adalah dari uang yang halal dan tidak merugikan orang lain

Melihat Muluk yang semakin sejahtera dan punya penghasilan, penilaian masyarakat semakin membaik, begitu juga dengan penilaian keluarga dan calon mertuanya. Sampai suatu ketika, ketiga orang tua (bapaknya Muluk, calon mertua, dan pak haji) datang mengunjungi tempat kerjanya Muluk. Mereka terkejut dan tidak bisa menerima bahwa penghasilan Muluk selama ini adalah dari uang hasil mencopet.

Padahal saat itu sudah ada kemajuan dari usaha Muluk untuk merubah keadaanpara pencopet. Sudah ada 6 kotak asongan yang tersedia dan akan ada 6 orang pencopet yang beralih profesi menjadi pengasong. Namun karena konflik dengan keluarga tersebut Muluk kembali sadar bahwa uang penghasilannya tetap saja dari uang yang tidak benar.

Muluk dkk pun berhenti bekerja sama dengan pencopet itu. Temannya yang sarjana memperingatkan Muluk agar tidak menyerah. Temannya itu baru saja menemukan arti dari hidupnya. Semangatnya kembali naik dan merasa bisa berharga bagi orang lain dengan mengajar pencopet-pencopet itu. Dia tidak ingin kembali pada kehidupan lama, yaitu bermain Gaple dan mengganggu orang. Menjadi sarjana pendidikan yang tidak kerja jadi guru dan dihina-dinakan orang. Tetapi Muluk tetap pada pendirian.

Di satu sisi, kepala Pencopet marah pada anak asuhnya, para pencopet. Dia sangat marah dan menyayangkan sikap anak-anak asuhnya yang tidak mau bekerja keras untuk berubah profesi, sampai Muluk berhenti dan sekarang tidak mengajar mereka lagi.

Dari beberapa anak asuhnya itu, ada segelintir yang sadar dan mengikuti ajaran-ajaran yang diberikan Muluk. Mereka adalah gerombolan pencopet pasar yang dikepalai oleh Komet. Mereka memilih untuk memanfaatkan asongan yang ditinggalkan Muluk. Namun sebagian lagi masih ragu dan tetap berprofesi sebagai pencopet.

Ending film ditutup dengan adegan Muluk melambaikan tangan dari Mobil Satpol PP. Dia ditangkap karena melindungi anak-anak pedagang asongan yang terjaring razia satpol PP. Adegan ini cukup mengharukan dan ironis.

Dari film ini dapat dipetik beberapa pelajaran :

1. Pendidikan di Negara ini belum menjamin lulusannya untuk dapat bekerja dengan layak.

2. Pelaksanaan UUD I945 pasal 34 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara” masih jauh dari harapan. Realitanya justru fakir miskin dan anak terlantar ini dianggap sebagai sampah masyarakat dan harus disingkirkan agar tidak mengganggu ketertiban. Ini sungguh penanganan yang salah dari pemerintah, Upaya serius harus dilakukan sebagai wujud nyata dari bunyi pasal tersebut. Bukti nyata lebih baik dari pada hanya sekedar janji palsu.

3. Penegakan hukum di Negara kita memang seperti “pisau yang ditancapkan diatas meja”. Meminjam istilah yang dikemukakan Mahfud MD tersebut, penegakan hukum semakin tegas dan tajam untuk masyarakat bawah, dan semakin “bisa dipegang-mudah dikendalikan” bagi masyarakat atas.

4. Penilaian masyarakat juga harus diubah. Pada dasarnya penilaian negatif dan tanggapan negatif dari masyarakat ini adalah tantangan paling berat bagi sarjana muda untuk berkembang. Disamping itu juga mentalitas produk pendidikannya memang tidak kuat. Ketersediaan lapangan kerja juga berpengaruh besar.

5. Pendidikan merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Karena dengan pendidikan kita mendapatkan ilmu pengetahuan, akan tetapi harus seimbang antara ilmu dunia juga ilmu akhirat supaya tidak menjadi para koruptor yang hanya memikirkan dunia tanpa takut azab siksa neraka yang menyala-nyala menanti mereka di akhirat nanti.

6. Pemerintah telah “GAGAL” karena tidak bisa menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Banyak sarjana yang tidak bekerja. Para penguasa hanya sibuk dengan korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Sungguh memalukan padahal mayoritas penduduk indonesia adalah Islam. Syariat islam tidak mereka jalankan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar